MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI MELALUI BERMAIN PLAY DOUGH
Dunia anak usia dini adalah dunia bermain, bagi mereka bermain tidak hanya kegiatan bersenang – senang yang tidak ada maknanya. Bermain bagi anak merupakan aktifitas yang menyenangkan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan suka rela. Melalui bermain dapat mengobtimalkan perkembangan potensi yang anak miliki, terutama permainan yang dilakukan dengan dengan motorik halus dan motorik kasar. Namun dewasa ini anak – anak lebih tertarik untuk melihat Televisi ataupun bermain game onlline dari pada bermain dengan teman – teman secara nyata, hal tersebut membuat perkembangan motorik halus serta motorik kasar anak tidak terasah dengan optimal karena anak duduk diam tanpa melakukan apapun. Maka dari itu kita sebagai pendidik haruslah kreatif untuk membuat kegiatan yang menarik bagi anak sehingga dapat membuat anak memilih untuk bermain secara nyata dari pada melihat televisi atau game online.
Metode yang digunakan guru untuk menciptakan kegitan yang menarik untuk anak sehingga dapat mengasah kemampuan motorik halus anak adalah metode demonstrasi. Dalam kegiatan tersebut anak diajak membuat play dough serta memuat kreasi bentuk dari play dough sesuia dengan imajinasi anak.
Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif,serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. Menurut Docket dan Fleer, bermain merupakan keutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.

Motorik halus ialah gerakan-gerakan yang menyangkut sebagian dari tubuh. Perkembangan ketrampilan tangan, dengan makin adanya kemantapan dari koordinasi mata dan tangan, di dalamnya ter- . dapat penampilan yang besar. Menurut analogi Dumont (1976) dapat diadakan pengenalan antara: koordinasi global lengan, tangan dan mata (contoh: semua gerakan yang dituntut untuk mengemudi, membidik, mengarahkan dan lain sebagainya). koordinasi spesifik lengan, tangan dan mata (contoh: menggambar, mengecat warna, permainan'tepuk . tangan dan jari, dan bermain bentuk dengan tanah liat dan sebagainya). koordinasi kompleks mata dan tangan (contoh: menyulam, menggunting, menyusun balok dan sebagainya).

Menurut Einon, playdough merupakan bahan yang cukup lembut untuk diremas, namun cukup elastis untuk dibuat sebuah bentuk. Lebih lanjut, Einon menyatakan bahwa media playdough merupakan material sehari-hari yang paling baik untuk membuat model atau bentuk bagi anak.
Gerakan – gerakan yang menyangkut bagian tubuh seperti tangan dan jari dapat ditingkatkan melalui kegiatan bermain play dough. Karena play dough cukup lemut untuk diremas sehingga dapat meningkatkan kemampuan tangan dan jari.
Play dough dimainkan dengancara diremas, dari kegiatan meremas terseut maka terasah pula kemampuan tanagn dan jari anak. Maka dari itu kegiatan pembelajaran menggunakan play doug sangatlah cocok untuk merangsang dan meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Dengan play dough anak diberikan kesempatan untuk merasakan tekstur dan menuangkan kreatifitasnya melalui beragai bentuk sesuai imajinasinya.
Disusun Oleh : Ayu Nurjanah, S.Pd



